Analisis Makna Puisi Kawanku dan Aku

Chairil Anwar
Kawanku dan Aku

Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal di pelabuhan

Darahku mengental pekat. Aku tumpat
pedat

Siapa berkata-kata…?
Kawanku hanya rangka saja.
Karena dera mengelucak tenaga

Dia bertanya jam berapa?

Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti.

Analisis Makna

Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal di pelabuhan

Dalam empat baris pertama sajak ini Chairil Anwar mencoba menyelaraskan irama bunyi setiap akhir baris, antara larut dan kabut, badan dan pelabuhan. Di sini chairil Anwar mencoba menceritakan sebuah perjuangan antara si “aku” dan “temannya” yang dirangkum dalam kata “kami” dengan penuh perjuangan hingga berkeringat.

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata…?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa!

Selanjutnya dia menceritakan bagaimana kebekuan alam telah menjadikan darah menjadi pekat tanpa gerak. Sedangkan temannya sudah tinggal tulang, karena setiap hari harus menguras tenaga.

Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti

Pekerjaan yang yang telah menguras banyak tenaga, ternyata upah tak seberapa atau hasil yang didapatkan tidak sesuai harapan. Semua yang dilakukan seperti sia-sia Sigodang Pos.

Puisi Lainnya

0 Response to "Analisis Makna Puisi Kawanku dan Aku"

Post a Comment