Cara Memahami dan Menikmati Puisi

Membaca puisi layaknya menikmati sebuah hidangan. Bedanya, makanan untuk asupan raga, sedangkan puisi untuk jiwa. Tingkat kenikmatan yang kita rasakan saat membaca puisi dipengaruhi oleh seperti apa puisi itu dihidangkan, dan bagaimana kita menikmati hidangan puisi tersebut. Dari beberapa puisi yang pernah saya (Ferdinean Saragih) tulis dan posting di blog Sigodang Pos ini, seringkali ada komentar yang menyatakan “bahasanya tingkat tinggi, jadi gag ngerti”.

Sebenarnya setiap puisi sudah memiliki makna sejak puisi itu dilahirkan oleh penulisnya. Kemudian saat puisi itu dilemparkan kepada pembaca, maknanya mungkin saja akan berbeda atau bahkan menyimpang dari makna yang disetujui oleh penulisnya. Hal ini tentunya merupakan sesuatu hal yang wajar dan masuk akal, karena pemaknaan puisi tidak memiliki keterikatan, maksudnya bebas untuk diartikan seperti apa, tergantung pembaca mengartikannya seperti apa, sesuai dengan suasana hatinya. Dan juga perlu juga diketahui bahwa “saat puisi itu sudah dilemparkan kepada pembaca, puisi tersebut tidak lagi hanya milik penulisnya, namun juga sudah menjadi milik pembaca.”

Sebenarnya ada hal uni pengalaman saya tentang membaca puisi, yang menunjukan bahwa puisi itu memiliki keunikan tersendiri dibandingkan karya sastra lainnya. Ceritanya seperti ini, suatuwaktu, saat saya masih kuliah, saya mengalami keterpurukan yang yang amat sangat mengganggu pikiran dan jiwa saya, yaitu sebuah masalah yang menurut saya sangat sulit saya hadapi. Saat itu saya tidak bisa tenang menjalankan kehidupan saya sebagaimana mestinya. Biasanya pada hari Minggu, saya selalu rutin membaca koran. Halaman pertama yang saya buka adalah halaman sastra. Pada saat itu saya membaca puisi seorang penyair senior, yang saya sudah lupa namanya, maklumlah sudah sangat lama. Saat membaca puisi tersebut, saya mengalami yang namanya “pengangkatan jiwa” saya merasakan beban saya entah kemana, dan semangat saya meningkat drastis. Kemudian saya kembali membaca puisi itu berulang kali. Memahami setiap makna yang terkandung didalamnya, hanya saja saya tidak dapat memahami makna yang ada pada puisi tersebut, tapi puisi itu benar-benar bisa saya nikmati, dan puisi itu mampu menyegarkan jiwa saya.

Sayapun berkesimpulan, jika tidak semua puisi harus dimaknai untuk dapat dinikmati, karena kadang permainan kata, juga dapat membuat pengalaman membaca puisi itu sangat mengasyikkan. Salam Pembaca.

Artikel Terkait

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel