Senin, Mei 30

Cerpen Cinta II

Sambungan Cerpen Cinta I "Antara Dua Keyakinan"
Suatu hari aku berterus terang kepada kedua orang tuaku tentang hubunganku dan Selvia. Mereka sangat senang, karena aku telah menemukan wanita sesuai dengan pilihanku. Namun setelah aku berbicara tentang kayakinan. Kebahagiaan yang sempat singgah pada kedua orang tuaku lenyap tanpa sisa. Bahkan setelah itu, mereka menjodohkanku dengan wanita yang sudah kukenal. Bahkan telah kuanggap adikku sendiri. Yaitu anak dari pamanku.

“Aku tak menginginkan perjodohan ini. apa bapak dan ibu tak tau perjodohan ini akan menyakiti aku juga Adinda?” ucapku. sebenarnya amarahku telah mencapai puncak tertinggi. Mungkin puncak gunung, entahlah gunung apa. Tapi kucoba membatasinya.

“Adinda tidak keberatan jika dijodohkan denganmu?” ucap ibu. Aku kaget mendengar kata-kata itu.

“maksud ibu Adinda?”

“ya, Adinda telah setuju dengan perjodohan ini.” ucap ibu memotong perkataanku.

Aku langsung berhambur keluar. Dunia ini tak adil. Tapi apakah Tuhan juga ikut andil tidak adil? Aku tidak tau. Bigitulah pikiranku berhamburan, saling bertanya saling menjawab. Langkahku terus melangkah di pelataran malam, menuju taman, tempat kebahagiaanku bersama Selvia.

Adinda adalah orang yang pertama mengetahui hubunganku dengan Selvia. Aku telah menganggapnya sebagai adikku. Bahkan dia telah menyetujui hubunganku dengan Selvia. Namun sekarang dia malah menyetujui perjodohanku dengannya. Sungguh sebuah teror yang picik dengan memperalat kedua orang tuaku.

Dari kejauhan, di gerbang taman. Aku telah memandang sosok Selvia. Duduk di bangku taman. Wajahnya indahnya dia tundukkan menghadap tanah.

“Aku tau sayang, cinta kita akan selalu terpasung. Sungguh begitu runyam dan terlalu rumit. Tapi apakah kita akan berhenti pada kondisi seperti ini? ”

Dengan sayu Selvia menolehku dan dengan sayu aku menoleh Selvia. Tanpa sepatah kata. Aku dan kau telah tau, jika perjuangan kita sia-sia. mencari jalan, mencari cinta. Karena restu dari asal kelahiran kita, tidak kita temukan. Aku telah membaca pikiranmu, dan aku tau kau juga telah membaca pikiranku, tentang rencana kita selanjutnya.

Seandainya aku bertemu Tuhan, yang pertama kutanyakan adalah, apakah aku dan Selvia tidak bisa dipersatukan untuk selamanya? namun Tuhan terlalu suka ngumpet dariku. Padahal aku tau dia selalu melihatku, tapi tak pernah diijinkanNya aku untuk melihatnya.

“Sungguh tak adil!”

Malam bersama airmata langit, menderu menjadi-jadi. Lalu kau mengumpamakannya dengan airmatamu dan air mataku yang menyatu di samudra.

Sepi menyergap. Hanya hujan yang menderu. Mungkin benar jika itu air mata dari mata air kita. Sampai kapan aku tak akan pernah tau.

“Biarkan mereka membenci kita.” Teriakmu memecahkan kebekuan.

“Karena mereka tak pernah tau.” sambungku.

Tanpa petunjuk dari yang maha kuasa. kepada dua senja yang berbeda telah di serahkan dua buah raga, berharap akan di pertemukan kembali pada kehidupan selanjutnya. Ferdinaen Saragih (2010: Bandung).

Cerpen Lainnya

9 komentar

berkunjung untuk pertama kali di blog sahabat

cerita cinta yg bagus sekali :-)

Salam

Wah, seru juga ceritanya kawan.
Maaf, baru berkunjung lagi..

Salam kawan

Cerpen yang bagus sob ;)

hmmm... jd ingat memory masa lalu. thanks utk cerpen yg bagus, salam kenal kawan, sukses ya...

Kalau bicara tentang cinta memang sangat mengasikkan :)

 
About - Contact Us - Sitemap - Disclaimer - Privacy Policy
Back To Top