Kamis, Februari 18

Puisi Media Massa 4

Dimuat di Seputar Indonesia, 22 Maret 2009
Madu Setengah Jadi

Pada akhirnya aku kembali lagi
Diatas pulau bermain layaknya dulu
Sayang kau rogoh saku
Tak ada yang kubawa dalam kantong
Datar. Perut yang kuisi sepuluh tahun silam
Masih tersisa darah di serupa ranting
Kering peninggalan

Jangan kau sayangkan waktu kepergian
Telah banyak kujilat tanah
Untuk kumuntahkan di pulau ini
Serupa kotoran musang
Dipelataran kebun kopi kita dulu
Berisi biji kopi unggul
lalu kubuat madu itu menjadi-jadi

Setia Budhi, 2009


Kehilangan

Kalong telah menjatuhkan
buah pada rumput
Semutlah yang berkerumun menikmati
Begitu pula kau
Telah kujatuhkan pada daratan
bukan punyaku

Sedihku beku diantara hari lalu
Kala hujan
Panas terik
aku tak lagi atapmu

Kutahu kesunyian bersamaku
Disela kesalahan
Sampai merenggutmu dariku
Serupa mutiara Yang kubuang
Di samudera lalu

Bandung, 2009


Bingkisan Hujan

Hujan membukakan lama tak kupunya
Kehangatan mata diiklaskan dalam gerimis
Selembut dentingan dia rebahkan
Sebuah laut dalam mata yang kedinginan

Hujan mengembalikan yang lama hilang
Melukis sebuah raga menawan tubuh
Seelok angin di sela terik mentari

Kubungkam keheningan suara
Kuhancurkan wajah memudar
Bersamanya aku menimbun gema
Terbang layaknya sepasang kupu-kupu

UPI, 2009


Perang

Diantara rumah dan tembok sunyi
Kau lontarkan gemersik peluru
Semua keras
Bersemayam dalam ketidakberdayaan

Haruskah kematian mengetuk pintumu
Haruskah kematian mengutuk jiwamu

Keegoisan telah mengubahmu
Menjadi hakim kematian
Mencuri hak Tuhan
Yang kutahu berabad-abad silam

Setia Budhi, 2009


Kusta dan Sajak

Bersabung gelisah di dadaku lama
Organ yang lama kupakai menconteng-conteng kata
Bersuara tanpa lelah di media-media
Meleleh habis oleh kusta yang lama tertanam
Serupa gulma di tanah subur

Bukankah tanganku serupa air di antara kemarau
Lalu daun-daun tumbuh tanpa kerontang
Hingga hati tak terbakar oleh api dunia

Sungguh aku tak dapat lagi membajak sawah
Mengukir patung, bahkan menulis sajak
Layaknya semusim lalu
Tinggal menunggu kemusnahan raga
Yang tak kutahu kapan

Bandung, 2009

Duka dan Bahagia
;Tua Gatuh

Adakah terang setelah gelap Begitu pagi setelah
Malam, dukaku terlalu berat
Tak terjamah olehku
Apakah lusa dukaku bahagia
Embun itu telah beranjak dan berhenti menetes
Dunianya telah berbeda, embun itu
Tak akan menetes lagi ucap mereka

Aku telah lama sadar akan manusia
Mengimaninya layaknya Tuhan
Kini iman itu lesu termakan duka
Menyelimuti seluruh jiwa yang lama terbuka
Semua telah terlambat saja
Namun apakah sia-sia
Jika aku menyerahkan bunga-bunga
Kepada embun yang telah tiada?

Bandung, 2009, Penulis: Ferdinaen Saragih

Puisi Lainnya

2 komentar

Gimana rasanya ya madu setengah jadi ini hehehe

jago nih sobat bikin puisi. salam kenal aja ya sob

 
About - Contact Us - Sitemap - Disclaimer - Privacy Policy
Back To Top