Sabtu, Juli 30

Cerpen Anak Muda bag 2

Sambungan Cerpen Anak Muda bag 1. Semuanya telah di putuskan, suatu kewajiban pulalah untuk menjalankannya. kini aku dan Muliono tinggal di salah satu desa terpencil, tempat dimana aku pernah di lahirkan. Pandangan-pandangan asing dari penduduk desa sudah tak dapat kutepis lagi. Namaku terus saja di perbincangkan, di warung-warung, dipersimpangan jalan, bahkan sampai ke pusat pasar tradisional, layaknya seorang calek saja. Mungkin ini adalah sebuah keharusan dari sebuah pilihan.

“Kita masih muda!” perkataan Muliono inilah yang telah membuang rasa maluku jauh-jauh, entahlah kemana, sampai enggan kembali. Aku telah banyak belajar dari dia, bagaimana menggunakan waktu muda, agar tidak sia-sia. Guru, sepertinya itulah sebutan yang pantas untuknya.

Kumulai membuka lahan-lahan baru bersama Muliono. Lahan yang belum pernah dihuni atau diolah penduduk. Awalnya serasa amat buruk, mengubah hutan semak menjadi sebuah lahan pertanian. Tetapi ada sesuatu yang menyenangkan, yang sudah lima tahun kutinggalkan. hidup diantara kesejukan, bersama pohon-pohon rindang. Suatu suasana yang tidak pernah kutemukan, selama hidup di kota.

“Kita akan membuat perkebunan” ucap Muliono setelah selesai makan siang.

“Aku sangat setuju dengan usulmu. Tetapi perkebunan apa?

“Dari beberapa bulan aku tinggal di sini, sepertinya cocok jika kita membuat perkebunan kopi. Kopi sangat subur di sini. Bagaimana menurutmu?”

“Saya pikir juga begitu! Untuk membuat perkebunan kopi, kita tidak perlu mengeluarkan modal yang terlalu banyak. Untuk lebih meminimalisasi, kita ambil saja kompos dari hutan sebagai pupuknya, jadi kita tidak usah mengeluarkan uang lagi untuk membeli pupuk kimia.”

“Ide yang bagus kawan. Menurut buku yang saya baca, pupuk kimia itu hanya bersifat sementara, dan dapat merusak tanah, jadi kita buat yang alami sajalah.”

Kami mulai dengan pembibitan, menjelajahi semua tanaman kopi penduduk, untuk memilih bibit yang berkualitas baik. dalam hal Pemilihan bibit, ayah pernah mengajariku, bagaimana memilih bibit kopi yang baik.

“Kamu masukkan saja kedalam air, bibit kopi yang benar-benar tenggelam, itu biasanya bibit yang bermutu baik, tapi tidak sampai disitu saja, dari bibit tersebut, kau perhatikan apakah ada bintik-bintik hitam, jika ada itu tidak cocok dijadikan bibit, karena sudah terjangkit hama.”

Saya pikir metode ayah yang tradisional itu dapat dijadikan pedoman mencari bibit yang tergolong baik. Selanjutnya kami mencari lahan yang paling subur sebagai lahan pembibitan. Menunggu bibit tersebut tumbuh besar, kami mengolah lahan-lahan yang telah kami buka sebelumnya, dengan menggemburkannya dengan alat yang seadanya. Ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama, berhubung karena kami berdua saja.

Setiap menjelang siang, ibu datang untuk mengantarkan makan siang, kadang ikut membantu-bantu. Umurnya yang sudah beranjak tua, telah menggerogoti kesehatannya. ditambah lagi pikirannya yang sembrautan semenjak di tinggal mati bapak dan kedua anaknya yang entah dimana, belum lagi utang-utang ibu, yang dikirimkannya untuk kebutuhanku di kota, sehingga tak dapat kubayangkan jika aku bersikeras untuk tidak kembali ke desa ini, karena kepulanganku telah menjadi sumber kebahagiaan buat ibu.

***
Pertumbuhan tanaman kopi yang subur membuat Muliono terharu bahagia. Sepertinya perjuangan kami selama ini tak terbuang sia-sia. Daunnya yang menghijau dan batangnya yang kokoh, telah menunjukan suatu harapan yang benar-benar nyata.

Awalnya semuanya mulus-mulus saja, tak ada yang harus di takutkan, tak ada yang harus di khawatirkan, tapi semenjak kemarau panjang bergelantungan di desa ini, Semuanya berubah. Belum lagi hama yang gentayangan, mengakibatkan tanaman kopi itu banyak yang mati kekeringan, bersamaan dengan hama yang menggerogotinya.

“Semuanya telah sia-sia” ucapku pada Muliono.

“Tak ada yang harus disesalkan, kita masih muda.” ucap Muliono dipelataran rumah yang sudah hampir reot, rumah peninggalan bapakku.

“Ini semua salahku No! aku bisa-bisanya lupa, jika bulan ini adalah jatah kemarau di tahun ini. Andai saja aku bisa tanggap, kita bisa proyeksikan penanaman kopi itu kita tunda dulu selepas kemarau ini.”

“Tak ada yang harus di sesali kawan, kita masih muda” perkataan itu diulang kembali oleh Muliono. sepertinya makna masih muda itu, begitu mengekang di benaknya, hingga tak perlu ada sesuatu yang disesalkan dan tak ada tempat untuk kesedihan. Tapi apakah itu tidak terlalu berlebihan?

“Mulai besok sore, kita harus menambah rutinitas kita. dengan mengangkat air dari sungai hulu, menyirami tanaman kopi itu. Sudahlah… jangan kau sesali lagi, tanaman kopi yang sudah mati, kita tanam lagi.” Tuturnya. Tak ada kata yang dapat kuucapkan pada Muliono, semangatnya masih saja berapi-api. Walau sebenarnya pertumbuhan kopi itu sudah berada di ujung tanduk.

Satu bulan lamanya kami mengangkat air dari sungai hulu, hingga musim penghujan tiba. Semuanya terlewat begitu menyeramkan. sebuah pertanyaan terus mengekang di benakku. Apakah semuanya akan sia-sia? Namun tidak pernah terjawab olehku, semuanya hanya menunggu pada waktu.

Bersamaan dengan musim penghujan, tanaman kopi itu kembali tumbuh subur. Semuanya kembali seperti semula, tak ada yang harus ditakutkan, tak ada yang harus dikhawatirkan. Tak terasa waktu sepertinya sudah mulai menjawab. kini kopi itu berbunga lebat dan sebagian sudah berubah menjadi butir-butir kopi kecil.

Tetapi tak lama kebahagiaan itu singgah, Masalah kembali datang lagi. Butir-butir kopi kecil itu banyak yang menghitam dan berjatuhan. hama kembali menyerang. Entahlah, ibu juga tak dapat memahaminya. “Baru pertama kali ini ada hama seperti ini” ucap ibu.

Untuk yang kali ini, sepertinya Muliono sudah mulai menyerah. seharian ini, dia hanya diam dan termenung di halaman rumah, tanpa sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Padahal aku masih menunggu kata yang selalu dilontarkannya padaku, seperti halnya pada kegagalan-kegagalan sebelumnya. apakah kegagalan ini telah mampu merenggut kata-kata itu darinya? Atau apakah dia sudah merasa tua?

Buah yang mengitam, kemudian berjatuhan, melukis sebuah kemiskinan yang dulu telah mencuri gelar sarjana Muliono. Sungguh suatu pemandangan yang berulang kusaksikan. Apakah Muliono dapat bangkit, seperti membangkitkan diriku selama ini

Kutemui Muliono di halaman rumah yang hampir reot, peninggalan bapakku. Dia termenung memandangi bulan yang hampir redup. Apakah Muliono telah mengisyaratkannya dengan apa yang telah dialaminya di desa terpencil ini.

“Panen gagal musim ini…Tapi sudahlah kita…”

“Kita masih muda” dengan sigap kupotong perkataannya, hingga kami tertawa bersama.

“Masih ada musim panen kedua” ucap ibu samar-samar dari ruang belakang, Hingga membuat tawa kami semakin menyeruak, di tengah kesunyian malam Ferdinaen Saragih (2009: Bandung).

Cerpen Lainnya

 
About - Contact Us - Sitemap - Disclaimer - Privacy Policy
Back To Top