Senin, April 18

Cerita Pendek: Puisi untuk Benari III

Cerita Pendek: Puisi untuk Benari III
Malam ini amat berat kulewati, tapi bukan karena Benari, kini pikiranku pada sosok gadis yang dikenalkan oleh Tumbur tadi. Mungkinkah dia adalah sosok yang dikirimkan Tuhan untuk mengganti posisi Benari dalam hidupku? Pertanyaan itu begitu mudah mengambang dalam benakku, padahal aku baru saja mengenalnya, mungkinkah karena senyuman? atau mungkin wajah yang hampir sama dengan Benari? aku semakin gelisah memikirkan itu.

Sepulang kuliah kusempatkan waktuku melihat mading kampus, aku suka membaca karya-karya mahasiswa, khususnya Sajak, aku selalu berupaya mempelajarinya, dan berharap suatu hari nanti aku bisa membuat sebuah Sajak. Sejenak mataku tertuju pada sebuah Sajak yang begitu dahsyat, Sajak itu menggambarkan kisah kehidupanku yang sangat menyedihkan, aku kaget ketika aku melihat penulisnya, ternyata adalah Meri. aku semakin penasaran tentang sosok gadis itu.

kini aku selalu menyempatkan waktuku untuk memandangi gadis itu dari kejauhan, hingga suatu saat aku sadar aku benar-benar jatuh cinta padanya, tapi itu selalu kutepis dengan pikiranku, karena dia itu bukan Benari, tapi apakah aku dapat melakukan itu selamanya, melawan kehendak hati yang benar-benar jatuh cinta padanya. Aku selalu rindu jika tidak melihatnya dalam satu hari. Hingga suatu saat aku mengajaknya ketemu di taman kampus.

Tanpa basa-basi akhirnya kuucapkan juga kata-kata cinta itu untuknya, dengan gambaran sebuah lukisan hati yang berbunga-bunga dalam sebuah kertas.
Dengan senang hati dia menuliskan jawaban dibalik lukisan itu, dia menerima pernyataan cintaku, dengan menggambarkan seorang pangeran dengan seorang putri menaiki kereta kuda, berjalan mengitari taman kota. aku sangat senang melihat tingkahnya yang lugu, kini pikiranku tak dapat menolak lagi, aku yakin, dia adalah gadis yang dikirimkan Tuhan untukku menggantikan Benari, Walau kondisi fisiknya tidak sama seperti Benari, mungkin itu suatu cobaan yang harus kuterima, aku harus mencontoh Benari, yang menerimaku apa adanya, karena aku sudah memahami apa arti cinta yang sebenarnya. tidak hanya melihat fisik seseorang yang kita cintai, tetapi hati yang tulus, yang mencintai kita selamanya.

Dalam kertas tersebut aku menanyakan perihal tentang Sajak tersebut, karena aku sangat penasaran, mengapa Sajak tersebut sama persis menceritakan kesedihan yang kualami selama ini. dia memandangku dengan senyuman, dan akhirnya dia menyatakan bahwa Sajak tersebut dituliskan untukku, dia mengetahui semua kisahku dari Tumbur. Kini rasa penasaranku sudah terjawab olehnya.

Tanpa terasa hari sudah gelap, dengan berat aku pamit pulang. Sebelum pergi, aku meminta kepadanya, untuk mengajariku menulis Sajak. Ketika aku mulai berdiri, dia menarik tanganku, dan meraih sebuah kertas, didalam kertas itu dia menuliskan suatu hal,

“kamu tak perlu belajar, tuliskanlah apa yang ada dalam hatimu, dengan kemampuanmu, karena Sajak adalah ungkapan-ungkapan hati yang sangat jujur.”

Setiba dikosan aku langsung mengambil sebuah kertas dan pulpen, kutuliskan semua yang ada dalam hatiku, seperti apa yang dikatakan Meri padaku. Kini aku benar-benar sudah menggoreskan sebuah Sajak.

Liburan kali ini, aku pulang ke kota kelahiranku, begitu juga dengan Meri. aku langsung menuju makam Benari, kubacakan Sajak-sajak yang telah kutulis untuknya. Tak lupa aku mengatakan pada Benari, bahwa aku sudah menemukan pendamping yang baik, sama sepertinya. aku berharap dia bahagia, di Dunianya yang baru.

Bandung, 2008-2009

Selengkapnya

 
About - Contact Us - Sitemap - Disclaimer - Privacy Policy
Back To Top