Kamis, Februari 11

Tak Sekadar Hiburan

Pada tanggal 30 april kemarin, Mainteater Bandung menggelar suatu teater yang berjudul “Kereta Api Bumel” karya Eckart hachfeld di gedung Indonesia Menggugat jln Perintis Kemerdekaan No. 5 Bandung. Teater yang digarap oleh sutradara Atin Rustini.
Teater ini menceritakan kisah seorang mesinis. Sebuah lokomotif yang di rampas dari seorang mesinis oleh konglomerat yang bernama tuan Singa Barong. Karena paman kancil, sang mesinis sering menaikkan anak-anak secara gratis. Tuan Singa Barong memang seorang yang pemarah dan tidak menyukai anak-anak. Pada akhirnya lokomotif itu boleh menjadi milik paman kancil asalkan dia dapat menemukan dan serta menyatukan kembali bagian-bagian lokomotif yang telah dipisah-pisahkan oleh tuan Singa Barong yang dibantu oleh seorang perempuan yang bernama Nuri Nurani.

Paman Kancil mulai mencari bagian-bagian lokomotif yang hilang itu. Di tempat seorang guru yang sedang merancang sebuah mesin ilmu, akhirnya mereka menemukan roda sang lokomotif. Di tempat seorang profesor, mereka akhirnya menemukan cerobong asap serta mesinnya. Sedangkan di tempat tuan Singa Laut yang gendut, mereka mendapatkan roda penggeraknya. Setelah semua lengkap, sang lokomotifpun dapat dirakit serta dijalankan kembali. Kemudian mereka semua di ajak naik kereta api, termasuk tuan Singa Barong yang kejahatannya dimaafkan oleh paman Kancil. (sinopsis cerita)

Sebuah pertunjukan bukan sekadar menghibur. Hal itulah yang benar-benar ditujukkan oleh sutradara yang di aplikasikan oleh pemain dalam teater tersebut. Selain memberikan pesan moral (jiwa petualang, perjuangan dan cinta sesama) kepada penonton, teater ini juga mengajak penonton berpartisipasi. Mengajak penonton untuk berperan. khususnya anak-anak, adalah bagian dari pertunjukan. Sehingga bakat-bakat yang mungkin terpendam pada anak-anak itu dapat di wujudkan menjadi nyata.
Sarana yang cukup sederhana, seperti pentas, kostum, musik. tidak menghambat para pemain untuk menunjukkan ekspresinya (tubuh, gerak, suara). Karena tidak jarang, Aplaus diberikan penonton. Hal itu juga membuktikan bahwa penonton benar-benar mengapresiasi pertunjukan itu dengan baik.

Lepas dari itu, pertunjukan teater itu juga mampu mengungkapkan kisah demi kisah yang dapat kita lihat dalam kehidupan nyata, khususnya di negri ini. misalnya kebiasaan konglomerat menindas sesama kaumnya yang kecil, kekerasan dalam rumah tangga dan kurangnya perhatian orang tua terhadap anak. Adapun inti teater yang ingin di komunikasikan terhadap penonton lewat pertunjukkan tersebut. Menunjukkan bahwa dunia anak itu sangat mengasikkan, yang seharusnya tidak direnggut oleh orang tua Ferdinaen Saragih.

Artikel Sastra Lainnya

 
About - Contact Us - Sitemap - Disclaimer - Privacy Policy
Back To Top